Trading dan Investasi

ad1

Zona Dewasa

Kisah Seks Indahnya Tubuh Ibuku Ini

Kisah Seks Indahnya Tubuh Ibuku Ini

 Tradingan.com - Malam sudah semakin larut, jam menunjukkan pukul 02.00 kurang lima menit. Aku masih terjaga di tempat tidurku. Rasanya waktu berjalan sangat lambat sekali. Mungkin benar kata orang, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Yah, aku memang sengaja bergadang, ada sesuatu yang membuatku melakukan hal itu.


Bermula dua satu minggu yang lalu ketika aku tak sengaja bangun pagi sekali, sekitar pukul lima lebih sedikit. Biasanya aku baru bangun sekitar jam sembilan, kebetulan aku masuk sekolah pada siang harinya. Tapi pagi itu entah kenapa rasa kantuk langsung hilang begitu aku membuka mata. Terpaksa aku keluar dari kamar, dan kulihat suasana rumah juga masih lengang dan sepi. Ayah tentu masih tidur, begitu juga dengan Raden, adikku yang duduk di kelas 2 SMP. Mungkin ibu sudah bangun karena harus menyiapkan sarapan pagi. Akhirnya aku memutuskan untuk berenang saja, kebetulan air kolam renang biasanya hangat pada pagi hari. Aku pun berjalan menuju kolam renang di belakang rumah. Terdengar suara orang sedang berenang. Aku pun penasaran dan mencoba mendekat, cuaca yang masih remang-remang membuat sosok yang sedang berenang itu terlihat samar-samar. Tetapi begitu sosok tersebut keluar dari kolam renang, aku kini dapat melihatnya dengan jelas karena lampu di pinggir kolam renang masih nyala.

Sosok tubuh seorang wanita keluar dari kolam renang. Yang membuatku terkejut karena sosok tersebut telanjang bulat. Payudaranya yang bulat dan terlihat masih kencang begitu indah dibasahi oleh air. Dan saat sosok itu menghadap ke arahku aku bertambah terkejut, menyadari kalau sosok tersebut adalah ibuku sendiri. Tubuh ibu yang montok dan mulus berkilat terpantul oleh sinar lampu. Kemaluan ibu terlihat bersih tanpa selembar rambut yang menempel di sana. Tapi aku dapat melihat bibir kemaluan ibu yang sudah menggelambir di sisi-sisinya. Melihat sosok ibu yang telanjang bulat dengan air membasahi tubuhnya, aku hanya sibuk meneguk ludah berulang kali. Sebelumnya aku tidak mempunyai pikiran apapun terhadap ibu. Tapi menyaksikan pemandangan erotis itu tanpa terasa pikiran kotor pun terbentuk di otakku. Aku sudah biasa melihat tubuh telanjang cewek, karena aku sering bercinta dengan pacarku. Tapi tubuh telanjang ibuku memberi rangsangan lain terhadap diriku.

Umur ibuku mungkin sudah tidak muda lagi, mendekati angka 35 tahun. Namun tubuh telanjangnya seakan menegaskan ibu tak kalah menggairahkannya dengan gadis 25-an. Aku langsung buru-buru menyingkir begitu ibu menuju tempatku berdiri. Aku pergi menuju dapur, dan kulihat ibu ngeloyor pergi ke kamar mandi. Kelihatannya ibu mau membersihkan diri. Rasa penasaran yang amat sangat membuatku mencoba mengintip dari lubang kunci kamar mandi. Tapi tidak dapat kutemukan sosok ibu. Aku pun pergi ke kamar dengan sejuta perasaan yang menggunung. Tiba-tiba saja terbersit keinginan untuk bercinta dengan ibu kandungku tersebut. Dan itulah mengapa aku masih terjaga pada malam hari ini. Hampir satu minggu ini kegiatanku adalah mengintip ibu pagi-pagi di kolam renang. Semakin lama keinginan untuk bercinta dengan ibu semakin kuat. Dan malam ini adalah kesempatanku, karena kebetulan ayah sedang pergi ke luar kota (berangkat tadi sore) selama tiga hari. Lanjut baca!


Cerita Ngewe Istri Kakakku yang Kesepian

Cerita Ngewe Istri Kakakku yang Kesepian

 Tradingan.com - Sebut namaku Dede, semasa kuliah aku tinggal bersama kakakku Deni dan istrinya Dina. Aku diajak tinggal bersama mereka, karena kampusku dekat dengan rumah mereka, daripada aku kost. Usiaku dengan Kak Deni selisih 5 tahun dan Dina 2 tahun lebih tua dariku.


Karena Kak Deni bertugas di kapal, ia sering jarang di rumah. Sering kulihat Dina kelihatan kesepian karena ditinggal kakakku. Kuhibur dia dan akhirnya kami sering bercanda. Lama-lama Terkesan kalau Dina lebih dekat ke aku dibanding Kak Deni. Karena Kak Deni jarang pulang akhirnya kami sering keluar jalan-jalan. Dan terkadang kami nonton bioskop berdua untuk menghilangkan rasa sepi Dina. Sering Dina dikira pacarku, tentu aku jadi bangga jalan dengannya. Seluk beluk di dirinya membuat mata terpikat dan tak lepas melirik. Keesokan harinya sepulang kuliah kulihat rumah sepi. Sesaat aku bingung ada apa dan kemana Dina. Sesaat kulihat di celah pintu kamarnya ada cahaya TV. Segera kucek apa ia ada di kamar. Kubuka pintunya, sesaat kuterdiam, terlihat di TV kamarnya adegan yang merangsang, sekilas kulihat Dina sedang terlentang dan ia kaget akan kehadiranku. “Maaf Mbak!” sahutku dengan tidak enak.

Lalu kututup pintu kamar dan keluar. Sekilas teringat yang sekilas kulihat tadi. Dina sedang asyik memainkan buah dadanya yang besar dan daerahnya yang indah dengan sebagian kulit yang tak tertutup sehingga memamerkan beberapa bagian tubuhnya. Sesaat beberapa lama di dalam kamar. Rasanya kuingin menonton yang Dina tonton tadi. Lalu kusetel CD simpanan di kamarku. Tampaknya birahiku muncul melihat adegan-adegan itu, sesaat terlintas yang dilakukan Dina di kamarnya. Tubuhnya merangsang pikiranku untuk berkhayal. Akhirnya seiring adegan film aku berkhayal bercinta. Kukeluarkan penisku dan kumainkan. Sesaat aku kaget, Dina masuk ke kamarku. Rupanya aku lupa mengunci pintu. Ia terlihat terdiam melihat milikku. Wajahnya tegang dan bingung. Sesaat kami sama-sama terdiam dan bingung.

“Ma.. maaf, ganggu ya,” tanya Dina dengan matanya yang menatap milikku.
“Eh.. enggak Mbak, a.. ada apa Mbak,” sahutku dengan tanganku yang masih memegang milikku.
“Nggak, tadi ada apa kamu kekamar?” tanya Dina dengan bingung karena kejadian ini.
“Oh itu, sangkain aku rumah kosong, aku nyari Mbak,” sahutku sambil kumasukkan milikku lagi.
“Kamu nonton apa?” tanya Dina lalu melihat film yang kusetel.
“I.. itu.. sama yang tadi,” sahutku dengan isyarat yang ditonton Dina di kamarnya.
Dina terdiam sesaat sambil melihat film.
“Maaf Mbak, boleh pinjem yang tadi nggak?” tanyaku dengan malu.
“Boleh, kenapa enggak?” jawab Dina.
“Mau minjem Mbak.. apa mau nonton di sini?” tawarku kepada Dina.
“Sekalian aja deh, biar rame,” jawabnya.

Adegan demi adegan difilm kami lewati, dan beberapa kali kami mengganti film. Kami juga berbincang dan mengobrol tentang yang berhubungan di film. Mungkin karena kami sering berdua dan bicara dari hati ke hati akhirnya kami merasakan ada kesamaan dan kecocokan. Kami tidak canggung lagi. Rasanya kami sama-sama menyukai tapi kami sadari Dina milik kakakku. Kami akhirnya biasa duduk berduaan dengan dekat. Sering dan banyak film kami tonton bersama. Kami akhirnya mulai sering melirik dan bertatapan mata. Sesaat saat film berputar tanpa kami sadari, tatapan mata kami membuat bibir kami bersentuhan. Tampaknya gairah kami sama dan tak bisa dibendung dan kami tergerak mengikuti iringan gairah dan birahi. Aku pikir ciuman tak apalah, akhirnya bibir dan lidah kami saling bersaing. Nafsu membuat kami terus berebutan air liur. Lanjut baca!


Kisah Ngentot Anal 3 Wanita ABG Montok 3

Kisah Ngentot Anal 3 Wanita ABG Montok 3

 Iklans.com - Kalau di tempat asalku sangat sukar untuk bergaul dengan orang Cina, maka di Surabaya hal itu bukan hal yang aneh. Aku bergaul akrab, bisa bermain-main,

berkunjung dan berjalan-jalan dengan mereka. Keinginanku sejak menginjak
Surabaya ialah merasakan nikmatnya tubuh wanita Cina. Itu memang menjadi
obsesiku. Seorang wanita Cina atau kalau boleh lebih harus menjadi sasaran
birahiku. Tak kusangka, semuanya berjalan lancar. Wanita itu ialah Mei Lan.

Kisahnya bermula dari Ibu Sherlly. Sesudah beberapa kali bersetubuh memuaskan
wanita yang gede nafsu ini, aku menyatakan keinginanku untuk bersetubuh
dengan seorang wanita Cina. Kupikir Bu Sherlly tak akan keberatan mencarikan
wanita-wanita idamanku tersebut. Bukankah ia juga yang memperkenalkanku kepada
Ibu Suwarsih?

“Bu Sher”, kataku satu malam, setelah melewati beberapa kali orgasme.

“Ada apa, jantanku”, sahutnya sayu.

“Bu Sher jangan marah ya”, sahutku sambil mengelus-elus kedua payudaranya yang
bulat dan montok itu.

“Nggak, kok”, sahutnya sambil mengelus kemaluanku yang mulai mengeras lagi.

“Sudah berkali-kali saya bersetubuh dengan Ibu dan Ibu Suwarsih. Kalian berdua
selalu puas dengan kejantananku. Hanya aku belum puas. Aku punya obsesi,
menyetubuhi seorang wanita Cina. Kalau lebih dari satu itu lebih baik”, kataku.

Hahahaha..”, Ibu Sherlly tertawa. “Ngapain pingin wanita Cina?”

“Di tempat asalku, sangat sukar bergaul dengan wanita Cina, apalagi bersetubuh
dengan mereka. Ini jelas sangat menantangku. Ingin kurasakan, seperti apa
nikmatnya bersetubuh dengan wanita Cina itu”, kataku

“Kalau itu sih gampang”, sahut Ibu Sherlly. “Tapi kamu mesti kuat lho! Wanita
Cina nafsunya gede-gede, kuat-kuat, sangat lama puasnya.”

“Kalau soal kuat, jangan khawatir”, sahutku. “Ibu khan sudah pernah merasakannya. Yah khan.”

“Tentu jantanku. Itu kuakui”, sahut Ibu Sherlly. “Mudah kok, ada Mei Lan.
Suaminya sudah nggak kuat. Selalu ejakulasi dini. Mana bisa Mei puas.
Sebentar, kutelepon Mei. Biar esok jadi hari pertamamu menikmati tubuh wanita
Cina impianmu.”

Tangannya menjangkau telepon di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Diputarnya angka-angka itu, sementara tanganku sendiri terus sibuk
memutar-mutar kedua payudaranya.

“Halloo, Mei”, kata Ibu Sherlly. “Nih ada khabar gembira untukmu. Ada
penodong yang galak, mungkin bisa bantu kamu. Kan udah lama puasa. Gimana?
Setuju? Besok siang? Okay! Dijamin deh, orangnya kuat. Malah Mei yang akan
kewalahan. Pokoknya, Mei akan menjadi seperti pengantin baru. Nah, siap-siap
yah? Gimana? Namanya Rudy. Agak hitam. Tapi itu khan bukan soal. Yang perlu
kan burungnya. Hahaa.. Gimana? Oh ya, itu sih gampang. Aku akan keluar dan
kembali sore harinya. Jadi jangan khawatir. Kalian bisa menggunakan ruangan
tamu di depan. Pokoknya buat seperti rumah sendiri deh! Tentu! Mau ngomong
sendiri?”

Gagang telepon diopernya kepadaku. Terdengar desah suara lembut dan sexy seorang wanita.

“Halloo, Bu Mei”, kataku sopan. Lanjut baca!


Kisah Ngentot Anal 3 Wanita ABG Montok 2

Kisah Ngentot Anal 3 Wanita ABG Montok 2

 Tradingna.com - Pagi ini aku bangun dari tidur dengan badan yang terasa pegal. Bisa dimaklumi, karena sejak Sabtu hingga Minggu soreh kemarin, aku telah melewatkan hari yang penuh pemuasan nafsu birahi dengan Suwarsih di Villa Pacet. Aku tersenyum sendiri membayangkan pertarunganku yang dramatis dan mendebarkan dengan Suwarsih yang berbuah dada besar dan berpantat teramat besar yang selalu bergoyang-goyang indah, dihiasi oleh kemaluan yang hangat, basah dan berbulu lebat. Sambil bersiul-siul kecil aku melangkah ke kamar mandi. Badanku pun beralih segar setelah mandi, hilanglah segala kepenatan karena pertarungan dengan Suwarsih kemarin. Kuputuskan line telepon karena ingin kulewatkan hari itu sepenuhnya untuk beristirahat.




Hari berikutnya aku bangun dengan tenaga baru. Sekitar jam 11 pagi aku kembali ke rumah kost yang dekat dengan kampus. Baru saja aku masuk telepon berdering.
“Hallo”, sahutku. “Ini Rudy.”
“Hai kuda liar”, sahut suara kenes seorang wanita. “Ini Sherlly.”
Terdengar suara lembut, berbisik seksi penuh gairah nafsu birahi.
Aku tersenyum. Sherlly, saudara mantan ibu kostku yang berasal dari Manado, yang sekarang ini berumah di Darmo Permai. Ibu Sherlly, yang memperkenalkan diriku kepada Ibu Suwarsih, yang juga telah puluhan kali merasakan kejantananku.
“Malam Minggunya ada di mana, hayo”, katanya mengikik.
“Nggak kemana-mana kok, Bu”, sahutku nakal.
“Alaa.. sok aksi kamu ya”, sahutnya. “Siapa yang menggeluti Suwarsih di Pacet sana, hayo.”
“Kok tahu, Bu”, sahutku pura-pura terkejut.
“Yah, tahu dong”, katanya seksi, diiringi desah nafas yang menandakan nafsu birahinya sudah perlu dipuaskan. “Sore itu kutelepon Suwarsih, katanya lagi ke Pacet. Nah, ketika kutelepon kamu, juga nggak ada. Kesimpulan jelas, kamu sedang asyik menggumuli si montok itu. Ngaku aja deh. Emangnya kenapa?”
“Iri nih ye..”, kataku tertawa.
“Idiih.. mentang-mentang jantan. Sok sombong kamu, yah”, sahutnya. “Oh ya.. Aku mau mengundangmu ke rumah. Mumpung suamiku lagi ke Jakarta selama seminggu. Lagian anak-anak kan semua di Malang. Akhir-akhir ini kamu kok maunya ‘tempur’ sama Suwarsih doang. Bisa nggak nemenin aku?”
“Yah, kalau hanya menemani saja sih nggak mau aku”, sahutku nakal. “Kecuali kalau mau ‘tempur’nya. Hahaa..”
“Iddiih.. genit kamu yah”, katanya. “Udah.. udah, aku nunggu di TP, sekarang juga.”

Telepon diputuskannya. Aku tersenyum sendiri. Ibu Sherlly! Telah puluhan kali kusetubuhi wanita ini. Entah keuntungan dari mana yang menimpaku. Aku mengenalnya ketika kost di rumah saudaranya di dekat kampusku. Aku sering membayang-bayangkan seperti apa nikmatnya menggumuli wanita cantik itu. Keberuntunganku datang tiga bulan kemudian. Aku masih ingat. Malam itu hujan lebat. Suaminya pergi ke Jakarta, urusan bisnis. Dua anaknya yang masih kecil sudah tidur. Aku tertahan di rumah itu karena banjir melanda kota Surabaya. Aku disuruh ibu kostku mengantar satu barang ke rumahnya. Karena tak bisa pulang ia menelpon ibu kostku mengabarkan kalau malam itu aku nginap di rumahnya. Aku lagi berbaring di kamar tamu ketika terdengar pintu diketuk. Kubuka, dan Ibu Sherlly berdiri di hadapanku dengan tubuh yang hanya dibelit selembar kain batik.
“Ada apa, Bu”, kataku dengan dada berdebaran melihat tubuh montoknya yang hanya dibelit sehelai kain batik. “Apakah hasratku menjadi kenyataan?” tanyaku.
“Tolong, yah”, katanya. “Punggungku sangat pegal. Tolong dipijit.”

Ia melangkah ke kamarnya tanpa menunggu persetujuanku. Aku mengikutinya. Di kamarnya ia berbaring tengkurap di atas tempat tidurnya. Kainnya tersingkap dan punggungnya yang padat berisi dan mulus itu segera kuremas-kuremas. Dan kelihatannya Ibu Sherlly sengaja mengangkat tubuhnya dengan bertopang pada kedua lengannya, sehingga tersingkap sedikit kedua buah dada yang bergantungan indah itu. Melihat itu, aku mulai sedikit meningkatkan aksiku. Ketika kupijit dekat lengannya, sengaja tanganku tergelincir, dan dengan itu menyentuh kedua buah dadanya. Sentuhanku semakin berani. Dari sekedar menyenggol, menjadi menggelus, akhirnya mencolek. Ia tertawa kesenangan.

Sementara itu, karena badannya terus menerus bergerak, kainnya semakin melorot. Dan tanganku semakin menyingkapkan kain itu ke arah pantatnya. Tanganku memijit dekat pantatnya, dan kugeser semakin ke bawah. Sadarlah aku, bahwa Ibu Sherlly ternyata tidak mengenakan celana dalam. Maka tanganku semakin nakal mendekati pantatnya. Sementara itu di atas sana, tangan kiriku semakin sering tergelincir. Ia mengerang nikmat. Pantatnya semakin terbuka. Ia rupanya memberiku kesempatan. Lanjut baca!


Kisah Ngentot Anal 3 Wanita ABG Montok 1

Kisah Ngentot Anal 3 Wanita ABG Montok 1

 Aopok.com - Namaku Rudy, berasal dari kawasan Indonesia Timur. Usiaku 23 tahun. Sejak tahun 2024 aku hijrah ke Surabaya untuk meneruskan studi di sebuah PTN terkenal. Dari daerahku yang agak terkebelakang aku beralih ke pergaulan metropolis. Teman-teman mahasiswi yang cantik manis ternyata mudah diajak bergaul. Namun, aku menyimpan obsesi. Apa itu? Ingin kurasakan seperti apa nikmatnya bersetubuh dengan wanita dari berbagai daerah. Siapa kira obsesiku itu agak dengan mudah terpenuhi? Berikut kisahku dengan tiga wanita dari 3 daerah berbeda.


Hari Sabtu, kira-kira pukul delapan pagi. Aku masih di tempat tidur ketika teleponku berdering. Dengan agak malas kuangkat.
“Haloo.. Rudy di sini”, kataku.
“Hi, Rud!”, suara wanita. “Ini Warsih. Gimana khabarnya?”
Mataku sepenuhnya terbuka sekarang. Di pelupuk mataku segera terbayang wajah manis wanita Jawa berusia tiga puluh tiga tahun tersebut.
“Hi..” aku jadi bersemangat. “Baik-baik. Ada apa?”
“Mau nggak, sore ini nemenin aku ke Pacet?” tanyanya.
Hatiku bersorak. Tentu saja aku mau.
“Aku menjemputmu sekitar jam empat di Jl. Darmo, seperti biasa. Suamiku lagi ke Solo menghantar Dodi dan Novi ke kakek neneknya. Pulang Senin siang. Aku jadi punya waktu untuk bersantai. OK?”
Aku hanya tertawa. Bersantai? Tentu saja di ranjang Villa keluarganya di Pacet sana. Lelaki normal mana yang mau menolak undangan seperti ini?

Sejak diperkenalkan Ibu Shirley kepadaku, sudah belasan kali ia merasakan kejantananku. Kesempatan itu datang lagi. Terbayang di mataku pergumulan hangat yang akan terjadi. Akan kugeluti tubuh montok itu, akan kusetubuhi dia sampai puas. Ibu Suwarsih sangat menarik walau sudah beranak dua. Tubuhnya sintal, tinggi dengan rambut lurus sedikit dibawah pundak. Buah dadanya besar menantang, putih dan ranum dengan putingnya yang berwarna merah jambu menonjol ke depan dengan seksinya seakan-akan belum diteteki seorang anakpun. Perutnya masih rata dan mulus dengan pinggang yang cukup langsing, digantungi oleh bongkahan pantatnya yang besar. Paha dan betisnya serasi dengan pantatnya. Dan terutama, kemaluannya yang berbulu hitam lebat berwarna kemerah-merahan, sudah sering kugenjot sampai ia menjerit-jerit. Aku tersenyum membayangkan kenikmatan yang akan kureguk.

Kurang lima menit pukul empat sore, aku berdiri di pinggir Jl. Darmo. Sebuah mobil kijang biru berkaca raiban berhenti. Pintu terbuka dan aku pun masuk. Ia tersenym dengan bibirnya yang merah merekah, menatapku tanpa berkata apa-apa namun dengan sorot mata penuh birahi yang perlu dipuaskan. Kututup pintu dan segera kulumat bibirnya yang basah menggairahkan.

“Ayo kita berangkat”, kataku melepaskan bibirnya.
Ia mengangguk dan melarikan mobil. Selama di perjalanan, tanganku tak henti-hentinya menari-nari di lekak lekuk tubuhnya. Ia tidak menolak sedikitpun malahan bergerak-gerak memberiku keleluasaan menjarah rayah tubuhnya. Di lereng sebuah bukit kuminta ia menghentikan mobil. Walau agak heran ia berhenti juga. Tanganku mulai beraksi mencopoti pakaiannya. Dadanya terbuka. Sebuah BH kecil berwarna cream menutupi seperempat buah dadanya. Segera mulutku menerkam kedua gunung kembar yang mulus itu. Ia mengerang-ngerang. Tanganku sibuk mencopoti rok pendek yang dikenakannya. CD cream kecil menutupi kemaluannya. Kugeluti dia di atas jok mobil itu. Ia melenguh semakin hebat dan mencari-cari reseluiting celanaku. Ditariknya ke bawah dan jemarinya yang halus menyusupi CD-ku dan meremas batang kemaluanku. Ia sudah siap untuk disetubuhi tetapi kutahan diri.

“Ayo kita berangkat lagi”, kataku.
“Kok tidak diteruskan”, katanya dengan nafas panjang. Sorot matanya menerawang penuh nafsu.
“Belum saatnya”, sahutku menggoda. “Nanti di villa saja.”

Maka sambil tersenyum ia kembali menyetir. Tembok pagar villa yang tinggi menjadi pelindung yang aman. Sambil berpelukan kami memasuki villa dan terus melangkah ke, lanjut baca!


Cerita Dewasa Marisa Karyawati Ingin di Culik

Cerita Dewasa Marisa Karyawati Ingin di Culik

 Tradingan.com - Gadis itu.. Tinggi badannya 170cm dengan postur tubuh yang sepadan hemm.. Lekuk bodinya yang sangat gitar itu sangat merangsang. Belum lagi pakaiannya yang tertutup tapi terbuka. He he hee.. Maksudku dia mengenakan blus merah yang tertutup dari lehernya dengan berkerah shang-hai dengan kancing-kancing warna emas yang manis dan tertib berbaris dari leher hingga bagian bawah pinggangnya. Memakai rok warna hitam yang 10cm dari lutut, bersepatu mirip pantovel dengan tali yang melintang di bawah pergelangan kakinya.. Payudaranya yang berukuran 36B itu.. Rambutnya terurai panjang hingga punggung, wajahnya yang cantik nyaris serupa dengan penyiar sebuah stasiun TV Fifi Aleyda Yahya.


Marissa namanya, selalu mengusik kalbuku hingga kini. Aku mulai mengenalnya dalam sebuah pertemuan, dia adalah supervisor bagian valas disebuah bank terkemuka di ibukota. Kebetulan waktu itu tampil dalam business gathering sebagai penyanyi dari trio tiga cewek, teman sekerjanya.

Aku adalah seorang eksekutif.. Pernah gagal dalam pernikahan jadi kini sendiri kalau orang bilang sih duren, duda keren he he he. Sejak pertemuan business gathering, aku semakin tertarik padanya; dengan segala usahaku mencari tahu nomor ponselnya, kemudian aku menjadi nasabahnya.. He he he perlu modal juga nich untuk pe de ka te sehingga diam-diam aku bisa setiap hari menelponnya untuk ikut main valas. Pada suatu kesempatan yang baik, aku berhasil mengundangnya makan siang, keluar sebentar dari kantornya. Berusaha aku menyatakan ketertarikanku.. Dan dia menolaknya cukup halus namun terlalu tegas bahasanya hingga hati ini tersinggung, sakit rasanya hatiku saat cintaku nyata-nyata ditolaknya.

Dikesempatan lain saat aku menelponnya guna menanyakan kondisi valas hari itu, dilayaninya dengan dingin sehingga yang berkembang dari dalam hati ini adalah amarah yang begitu besar karena merasa harga diriku telah terinjak-injak.

*****

Marissa tak berkutik, matanya mendelik melihat wajahku.

“Haa.. Ha.. Ha.. Haa!!”

Sia-sia saja dia karena aku memakai topeng twinky winky teletubbies. Tangannya sudah terikat erat ke belakang oleh tali plastik warna kuning yang melilit dan melingkari buah dadanya yang menyembul. Menggenakan ‘kostum sexynya’ seperti saat aku memandangnya pertama kali itu. Blus merah itu lho.. Kakinya yang panjang dan sexy itupun sudah tak berdaya dan terikat jadi satu mulai dari kedua lututnya, kemudian kakinya yang bersepatu sexy itu. Oh.. Aku sungguh sangat terangsang melihat keadaannya yang sangat tidak berdaya itu. Aku adalah penggemar berat shibari hogtie ala Jepang yang sangat indah dan teliti dalam ikat mengikat. Hemh.. Ini juga salah satu kegagalan pernikahanku karena mantan istriku sangat tidak suka untuk aku ikat. Marissa masih meronta-ronta tak berdaya di apartemanku. Matanya akhirnya aku tutup dengan lakban sebagaimana aku menyumbat mulutnya. Bagaimana dia bisa ada di kamarku? Biar pembaca tidak penasaran.. Beginilah ceritanya.

Waktu itu menunjukkan kira-kira jam 23.00. Suasana di jalan relatif sepi di Senin malam itu. Lama telah aku pelajari bahwa di akhir bulan Marissa biasanya pulang jam 23.00 dan mengendarai taxi. Lanjut baca!


Kisah Memperkosa Calon Pengantin

Kisah Memperkosa Calon Pengantin

 Piool.com - Aku pernah berbagi kisah dengan teman-teman pembaca semua, dan aku akan melakukan hal yang sama sekarang untuk yang kedua kalinya. Statusku yang bebas (mahasiswa perantau) membuatku tidak terbatas dalam berbagai aktifitas, walau seringkali diantaranya bermuatan negatif. Pengalaman ini terjadi pada tahun 1999 di bulan November, dimana kota Surabaya sedang diguyur hujan. Merupakan pemandangan langka kalau Surabaya dicurahi hujan, karena lebih sering kota ini berada dalam kondisi kering. Kesempatan itu kumanfaatkan untuk berkeliling mengitari Surabaya karena suhunya agak bersahabat.


Aku berkeliling dengan menggunakan angkutan umum, ke tempat-tempat favorit dan belum pernah kujalani sebelumnya. Kali ini aku bersantai di Galaxy Mall, yang banyak dikunjungi WNI keturunan. Mataku liar melirik-lirik wanita putih mulus dan trendy. Entah kenapa sejak dulu aku terobsesi dengan wanita Chinese yang menurut pandanganku adalah tipikal sempurna dalam banyak hal. Di lantai paling atas, mataku tertuju kepada seorang gadis cantik dan seksi, sedang makan sendirian, tak ada teman. Dengan teknik yang biasa kulakukan, kudekati dia. Kami berkenalan sejenak dan dia menawariku ikut makan. Aku bilang aku sudah kenyang. Dia bernama Nina **** (edited). Kami seumuran atau paling tidak dia lebih tua dua tahun dariku. Setelah ngobrol agak lama, dengan mengeluarkan jurus empuk tentunya, dia mengajakku pulang bersama, karena aku mengaku akan menunggu angkutan sampai hujan reda.

Akhirnya, aku pun setuju, dan segera berangkat bersamanya. Di dalam mobil, aku tak bisa tenang karena ketika menyetir, aku bisa melihat dadanya yang montok dan paha mulusnya bergerak gesit menguasai kemudi. Tapi dia tidak menyadari itu, karena aku tahu dia tidak akan suka. Hal itu kusadari dari pembicaraan sebelumnya. Dia kelihatannya wanita baik-baik. Tapi konsentrasiku sangat terganggu apalagi jalanan di kota Surabaya yang tidak rata membuat dada indah yang bersembunyi di balik bajunya bergoyang-goyang. Ditambah lagi harum tubuhnya yang sangat merangsang. Akhirnya timbul pikiran jahat di otakku.
“Aku pindah ke belakang ya..” kataku.
“Kenapa?”
“Aku ngantuk, mau tiduran, nanti turunkan aku di jalan Kertajaya”, kataku berpura-pura.
Saat itu sejuta rencana jahat sudah merasuki otakku.
“Ok, tapi kamu jangan terlalu pulas ya.. nanti ngebanguninnya susah”, katanya polos.

Di kala otakku sudah kesetanan, tiba-tiba..
“Jangan berisik atau pisau ini akan merobek lehermu”, ancamku seraya menempelkan pisau lipat yang biasa kubawa. Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak di Medan dulu.
“Don.. apa-apaan nihh..?” teriaknya gugup, karena terkejut.
“Aku peringatkan, diam, jangan macam-macam!” bentakku sambil menekan permukaan pisau lebih kuat.
Aku sudah kehilangan keseimbangan karena nafsu.
“Jalankan mobilnya dengan wajar, bawa ke daerah Petemon.. cepat..!” Wajib baca!


ad2

Iklan Gratis

Peluang Bisnis

Berita Terkini

Chord dan Lirik

Tempo Doeloe

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan